Si buruk Rupa beristri Cantik

January 28th, 2008 by newramkur

Lover_10 Suatu hari Imran bin Hathan menemui Istrinya.Imran adalah seorang yang buruk rupa:kecil dan Pendek.Sementara itu Istrinya sangat cantik.Ketika ia memandangi Istrinya, semakin terasa kecantikan Istrinya sehinggna Ia tidak mampu untuk menahan untuk terus memandanginya.Istri Imran bertanya "Ada apa denganmu Suamiku?, mengapa memandangiku terus?.Imran berkata; Alhamdulillah, demi Allah engkau sungguh cantik Istriku.:berbahagialah engkau sebab saya dan dirimu akan masuk syurga, Istri imran menjawab. darimana engkau tau kalo kita akan masuk syurga ?, Tanya Imran. Istrinya menjawab" Engkau dianugrahi orang sepertiku (wanita cantik) sehingga Engkau bersyukur, sedangkan saya diberi cobaan mendapatkanmu dan saya bersabar; orang yang bersyukur dan orang yang bersabar akan masuk syurga bukan?…

Rakyat Mendambakan Negarawan Sejati

January 22nd, 2008 by newramkur

Dari hari ke hari, umat Islam di Indonesia wajar makin kecewa. Hal-hal yang terkait dengan keislaman dan keimanan umat makin tidak terjaga. Lihatlah beberapa kasus yang paling dekat. Pertama: Pada 21 Mei 2006 umat Islam dan pimpinan mereka dari berbagai organisasi dan komponen umat sebanyak 1,2 juta turun memenuhi jalan-jalan utama di Jakarta menuntut pengesahan Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi Pornoaksi. Di daerah pun terjadi hal serupa. Ini benar-benar aspirasi umat. Namun, apa yang terjadi? Sampai saat ini tidak jelas. Pornografi dan pornoaksi pun bergentayangan terus di tengah generasi umat ini. Ini jelas-jelas merupakan pelecehan terhadap umat dan ulama. Pemerintah dan DPR seakan menganggap tuntutan 1,2 juta umat yang turun ke jalan tersebut laksana angin lalu.

Kedua: Pada tanggal 5 April 2007 digelar sidang terhadap Pimpinan Redaksi Majalah Playboy Indonesia, Erwin Armada, di Pengadilan Jakarta Selatan. Banyak ulama datang saat itu, bahkan membacakan somasi. Namun, apa yang terjadi? Pimpinan majalah porno tersebut divonis "tidak bersalah". Sampai kini, Majalah Playboy pun tetap dijajakan di ruas-ruas jalan di Jakarta. Lagi-lagi, kehendak umat untuk menjaga moral dan akhlak masyarakat diabaikan oleh penguasa dan wakil rakyat.

Ketiga: Fatwa MUI tahun 1980 yang ditegaskan lagi tahun 2005 menyatakan aliran Ahmadiyah sesat karena selain mengaku kerasulan Nabi Muhammad juga meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi/rasul—sekalipun tidak membawa syariat baru. Fatwa ini masih berlaku sampai saat ini. Organisasi Konferensi Islam dalam Majma’ Fiqh al-Islami di Jeddah tahun 1985 juga telah menegaskan hal yang sama. Namun, apa yang terjadi? Lagi-lagi dengan ‘arahan’ dari Litbang Departemen Agama, Badan Koordinasi Pengkaji Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakor Pakem) lalu menetapkan Ahmadiyah tidak terlarang. Bagaimana mungkin dialog yang hanya 7 putaran, dalam waktu cepat, dan tanpa menyoal buku-buku mereka dapat meniadakan keputusan ulama dunia? Belum lagi ada informasi bahwa Pemerintahan Saudi akan menyeleksi jamaah haji dari Indonesia karena khawatir ada orang Ahmadiyah—yang telah difatwakan kafir dan haram masuk Tanah Haram oleh ulama di sana—turut naik haji. Bukankah sikap Bakor Pakem ini merupakan pelecehan terhadap Islam dan ulamanya? Namun, ketika sebagian umat Islam merasa disakiti, dan makin sakit, lalu ada yang tidak sabar lagi hingga melakukan tindak kekerasan yang sejatinya tidak boleh terjadi, yang dipersalahkan justru umat Islam yang menjaga kemurnian akidah Islam. Dalihnya, HAM! HAM telah dijadikan tuhan, ditarik kesana-kemari demi untuk menyingkirkan Islam dari kehidupan. Jadi, seolah-olah yang terlarang itu adalah menjaga kemurnian Islam.

Semua itu amat berbeda dengan sikap dan tindakan para pemimpin Islam/para Khalifah dulu. Sikap di atas berbeda dengan sikap Khalifah Abu Bakar ash-Shidiq yang menindak tegas dan memerangi Musailamah yang mengklaim sebagai nabi dan para pengikutnya. Khalifah Abu Bakar ra. menindak tegas semua pihak yang mempermainkan dan menodai akidah Islam dengan keluar dari Islam alias murtad dan menolak kewajiban membayar zakat. Bahkan Ibn al-Jauzi dalam Al-Muntazham dan Ibn Asakir melaporkan, bahwa Khalifah Abu Bakar memerintahkan Panglima Khalid ibn Walid agar tidak memasukkan satu orang pun yang dulunya murtad ke dalam pasukan Islam untuk menjalankan misi jihad. Kebijakan itu dilanjutkan oleh Khalifah Umar bin Khaththab ra. seperti yang dilaporkan oleh ath-Thabari dalam Târîkh-nya.

Dibutuhkan Negarawan Sejati

Bukan hanya abai terhadap penjagaan akidah umat, penguasa saat ini juga tampak tidak peduli terhadap penderitaan rakyat. Banyak politisi dan pejabat sekarang—saat rakyat menderita kemiskinan dan kesulitan memenuhi kebutuhan pangan—justru meminta kenaikan gaji, tunjangan dan fasilitas tambahan.

Hal itu bertolak belakang dengan Khalifah Umar bin al-Khaththab. Ketika masa paceklik dan kekurangan pangan melanda Madinah, Khalifah Umar tidak mau mengecap makanan enak dan hanya makan roti murahan yang diolesi minyak. Beliau berprinsip, jika rakyat bisa makan enak, biarlah dirinya menjadi orang terakhir yang bisa makan enak. Sebaliknya, jika rakyat kelaparan, biarlah dirinya menjadi orang terakhir yang terbebas dari kelaparan.

Ketika menjumpai sebagian rakyatnya kekurangan pangan, Khalifah Umar langsung menyelesaikannya dan mencukupi bahan makanan mereka, bahkan beliau memanggulnya sendiri. Agar rakyat Irak terbebas dari kemiskinan, Khalifah Umar memberikan bantuan cuma-cuma kepada para petani Irak agar bisa mengolah tanah mereka. Kebijakan itu dilanjutkan oleh para Khalifah Umayah dan Abbasiyah.

Perumahan yang termasuk kebutuhan pokok rakyat mestinya dijamin oleh Pemerintah. Namun, jangankan memberikan jaminan, yang terjadi justru penggusuran dilakukan di sana-sini. Hingga kini dengan berbagai dalih hal itu terus saja terjadi. Akibatnya , puluhan ribu orang tiba-tiba terlantar.

Sungguh berbeda dengan yang dilakukan Khalifah Umar bin Khaththab, lebih dari 13 abad lalu. Di dalam Hayah ash-Shahâbat, Syaikh al-Kandahlawi memaparkan, bahwa Umar pernah akan memperluas Masjid Nabawi. Namun, niatnya terkendala oleh penolakan al-Abbas yang rumahnya bakal kena gusur untuk tujuan itu. Khalifah Umar pun tidak memaksanya. Beberapa waktu kemudian al-Abbas sendiri yang memperluasnya. Begitu pun saat akan dilakukan perluasan masjid di Mesir yang untuk itu harus menggusur rumah seorang non- Muslim . Khalifah Umar juga tidak memaksanya, apalagi menterornya dengan mengirim preman.

Manshur al-Hajib, penguasa Andalusia, juga pernah berencana membangun jembatan di atas sungai yang membelah kota Qordova. Untuk itu, ia harus menggusur rumah seorang tua. Ketika orang tua itu meminta harga 10 dinar (setara 42,5 gram emas) utusan Manshur langsung menyetujuinya tanpa menawarnya. Saat dilaporkan kepada Manshur maka Manshur pun memanggil orang tua itu. Manshur al-Hajib memberikan penghargaan atas kesediaan orang tua itu menyerahkan tanahnya dan Manshur pun memberinya tambahan 90 dinar.

Pendidikan sebagai kebutuhan dasar rakyat saat ini juga hanya ilusi. Para politisi lebih suka mematuhi nasihat pihak asing dengan memprivatisasi pendidikan. Akibatnya, pendidikan menjadi mahal; tidak terjangkau oleh masyarakat kecil.

Fakta di atas sungguh jauh dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh para Khalifah dan penguasa dalam sistem Khilafah dulu yang memberikan pendidikan berkualitas dan beban biaya kepada rakyat. Khalifah Harun ar-Rasyid memberikan hadiah hingga 100 dinar (setara 425 gram emas) untuk para penuntut ilmu. Khalifah al-Makmun membangun Bait al-Hikmah. Khalifah al-Mustanshir membangun Madrasah al-Mustanshiriyah yang bebas biaya.

Hal sama dilakukan oleh Sultan Nuruddin M Zanki dengan membangun Madrasah an-Nuriah. Semuanya disertai dengan sarana yang lengkap dan bebas biaya. Mendambakan Negarawan Sejati Ideologi yang diterapkan dan diadopsi saat ini adalah ideologi Kapitalisme-sekular. Ideologi ini menjadikan manfaat atau kepentingan sebagai nilai yang diagungkan dan dijadikan tolok ukur. Di tengah ideologi dan sistem politik seperti saat ini, mustahil kita mengharapkan akan muncul negarawan seperti Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, Umar bin Abdul Aziz, Manshur al-Hajib, Harun ar-Rasyid, al-Mustanshir, Abdul Hamid II dan sebagainya itu. Negarawan seperti mereka hanya bisa dibentuk dalam sebuah institusi negara yang berideologi Islam. Pemimpin dalam sistem Islam akan sadar bahwa kekuasaan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Di telinga mereka akan senantiasa terngiang sabda Rasul saw. berikut:

فَاْلأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ

Seorang pemimpin (penguasa) adalah pengurus rakyat; dia bertanggungjawab atas rakyat yang diurusnya. (HR al-Bukhari).

أَحَبُّ الْخَلْقِ إِلَى اللهِ إِمَامٌ عَادِلٌ وَ أَبْغَضُهُمْ إِمَامٌ جَائِرٌ

Makhluk yang paling dicintai Allah adalah pemimpin yang adil dan yang paling dibenci-Nya adalah pemimpin yang zalim. (HR Ahmad).

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلاَّ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

Tidaklah seorang hamba yang diserahi Allah memelihara dan mengurus (kepentingan) rakyat lalu meninggal, sementara ia menipu rakyatnya, kecuali Allah mengharamkan atasnya surga. (HR Muslim, Ahmad, dan ad-Darimi).

Wahai Kaum Muslim : Kini, kita tidak lagi memiliki pemimpin yang mengayomi dan melindungi umat; kita tidak lagi mempunyai benteng yang menjaga kita sebagaimana yang disabdakan Nabi saw.:

الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَاءِهِ وَ يُتَّقَ بِهِ

Imam/Khalifah itu adalah benteng, (umat) berperang di belakangnya dan dilindungi olehnya Karena itu, belum tibakah saatnya kita memiliki Imam/Khalifah yang dapat memelihara urusan umat serta mengayomi dan melindungi umat di bawah naungan Khilafah Islamiyah yang menerapkan syariah-Nya?! Wallâh a’lam bi ash-shawâb. Rakyat Mendambakan Negarawan… from my inbox

Sang Maha Guru

January 21st, 2008 by newramkur

Matanya senantiasa mengawasi setiap sudut ruangan dengan tatapan yang tajam, layaknya seekor rubah merah berekor sembilan yang sedang mencari mangsa, meski dimulutnya telah terkulai seekor rusa, mulutnya tidak henti hentinya mengunyah dan tampak jelas dua toples besar berada dalam pelukanya.

Itulah salah satu sepupuku yang begitu terobsesi dengan setiap makanan yang terhidang saat Hari raya Idul Fitri, tidak ada makanan yang luput darinya dan tidak ada satupun makanan yang tidak Ia ketahui rasanya,mulutnya layaknya gilingan beras yang tidak pernah berhenti.

Setiap hidangan yang melewati kerongkonganya senantiasa Ia berikan komentar,hmmm…enak ni, tapi sayang kurang manis,nah ini enak, tapi bumbunya kurang meresap, itulah beberapa komentar yang keluar dari mulutnya saat sesuatu masuk kedalam mulutnya, sikapnya persis sama dengan para juri dalam acara lomba masak yang pernah kutonton di televisi.

Hari kemenangan seolah menjadi hari pembalasan dendam kesumat setelah sebulan penuh terkekang dalam kekhusuan berpuasa dan setiap makanan yang terhidang  seolah wajib untuk dilahap detik itu juga. itulah seninya merayakan kemenangan "pembalasan dendam" layaknya tentara amerika yang menyiksa saudara kita di penjara Abu ghraib, celoteh sepupuku sambil tertawa lepas meski sedetik kemudian mulutnya yang penuh dengan makanan berubah monyong saat sepupuku yang lain menyamakanya dengan tentara amerika yang bejat itu.

Itulah kecerian yang kualami manakala hari Idul fitri telah tiba, banyak makanan yang terhidang hampir di setiap sudut ruangan.namun ada kegembiraan lain selain itu semua, yaitu berkumpulnya keluarga besar ku dari beberapa generasi, dan tentunya yang paling menyenangkan adalah saat generasi seusiaku berkumpul bersama.Kesibukan masing masing membuat kami jarang bertemu dan momen idul fitri adalah momen terbaik untuk saling bercerita dan melepas kerinduan setelah sekian lama tidak berjumpa,Seperti saat itu,hampir semua sepupuku berkumpul  dirumahku.sangat menyenangkan.masing masing mengungkapkan semua cerita yang sudah lama ingin diungkapkan.

Namun sesungguhnya sangat berbahaya manakala remaja seusia kami yang memiliki semangat tinggi dan jiwa pemberontak berkumpul bersama,arah pembicaraan kami mulai bergeser dari hanya sekedar bercerita tentang keadaan masing masing dan aktivitas yang dilakukan selama tidak berjumpa menjadi penyusunan sebuah rencana petualangan liar dengan ide ide gila ide yang muncul karena dorongan darah muda yang menggelora.Tidak menunggu lama untuk menciptakan suatu proposal kesepakatan, akhirnya setelah satu jam bercerita keluarlah keputusan yang disepakati bersama, sebuah rencana brilian, mahakarya anak bangsa namun menjadi awal penderitaan kami yang tidak akan terlupakan.

Ide itu muncul pertama kali dari sepupuku yang bernama andi,yang diamini oleh seppuku yang lain beserta beberapa teman kami,Ide itu adalah menaklukan Puncak tertinggi gunung tampomas.gunung yang begitu Indah bila dilihat dari belakang rumahku.

Saat ide itu terdengar di telingaku, tiba tiba jantungku berdetak lebih cepat sehingga aliran darahku terasa begitu deras.Ternyata adrenalin dalam tubuhku bereaksi begitu cepat manakala kata gunung terdengar jelas ditelingaku, akupun menjelma laksana seorang jendral yang penuh keberanian memotivasi para prajurit yang hendak pergi berperang, kupraktekan trik trik mempengaruhi audien yang kupelajari dari sebuah buku komunikasi hingga membuat semua sepupuku manggut manggut penuh semangat ingin segera menaklukan sang petinggi Alam,bukan itu saja berbagai lobi aku lakukan terutama kepada setiap orang yang menjabat sebagai Ibu dan ayah dari semua sepupuku, kami begitu kompak saat itu,dan akhirnya perjuangan keras kami membuahkan hasil, orang tua kami mengabulkan referendum kami sehingga kami mendapatkan kemerdekaan.

Namun kemerdekaan yang kami peroleh ternyata terlalu prematur, karena Panitia persiapan kemerdekaan kami belum benar benar siap, sehingga  dasar negara yang kami bangun belum begitu jelas,akibatnya kami menjalankan rencana kami dengan alakadarnya.persiapan yang kami lakukan tidak lebih dari satu jam sedangkan medan yang harus kami taklukan adalah bongkahan batu raksasa penuh pepohonan yang menjulang sangat tinggi.

Peralatan yang kami bawa jauh dari standar minimum para pendaki gunung, tenda yang kami bawa hanya selembar terpal lebar yang biasa dipakai untuk menjemur padi dan sleeping bag kami hanya dua gulung tikar yang kami temukan di gudang. hanya keinginan dan semangat besar yang membuat kami berani memulai perjalanan itu, meski sebetulnya kata bodoh dan nekat lebih cocok.dari sekian banyak yang mengajukan referendum hanya tiga orang yang dikabulkan, andi, adi, dan dani, selain sepupuku terdapat tiga orang temanku yang ikut bergabung, dasef, jajang dan uyuh, aku lupa namanya tapi kami biasa memanggilnya uyuh.

Sore itu tepat pukul 4 sore selepas ashar kami bersiap memulai perjalanan, temanku jajang bertindak menjadi penunjuk jalan, karena Ia satu satunya yang tahu jalur yang akan kami tempuh, seperti seorang pemimpin pasukan elit Ia menjelaskan rute dan kondisi jalan yang akan kami tempuh, setiap wejangan ia sampaikan penuh semangat.Namun kesalahan besar kami lakukan saat kami memutuskan untuk memulai perjalanan dari rumahku dengan berjalan kaki, saat itu alasan kami adalah agar perjalanan lebih menantang dan berkesan." Yang kita inginkan adalah perjalanan yang menantang agar perjalanan kita penuh kesan dan kebanggaan, kalau hanya mencapai puncak bukankah orang lain juga bisa? "Sepupuku andi memprovokasi dengan penuh semangat, dan sialnya akupun terprovokasi dengan mendukung idenya sehingga yang lainya begitu terbakar semangatnya.sebuah alasan yang sungguh luar biasa meski nampak arogan.padahal untuk mencapai kaki gunung saja tidak kurang dari sepuluh kilometer harus kami tempuh  terlebih medan yang dilalui bukanlah jalan raya penuh bunga dimana terdapat banyak penjaja makanan, melainkan hutan dan semak dengan medan yang belum kami kenal.jika dengan menggunakan angkutan umum sebenarnya kami bisa lebih cepat dan mudah mencapai kaki gunung sehingga bisa dengan mudah pula memulai pendakian karena trek atau jalan menuju puncak sudah ada.

Saat mengawali perjalanan kami tampak begitu bersemangat, adi yang sejak awal tidak banyak komentar mendadak menjadi seperti penyiar radio yang sedang berusaha memecahkan rekor siaran nonstop,kisah demi kisah Ia siarkan walaupun kadang dani sering memotong ceritanya dan mengubah kisah adi dengan versi yang lain.Uyuh yang berperawakan jangkung tidak terganggu dengan perdebatan yang kadang muncul antara adi dan dani, Ia tampak cuek bernyanyi menirukan musik yang Ia dengarkan lewat walkmannya.Lain halnya dengan jajang sang komandan, merasa memiliki tanggungjawab besar Ia tampak serius memperhatikan jalan dan kadangn begitu serius berdiskusi dengan andi, sedangkan aku dan dasef begitu terlena dengan keindahan disekitar kami.

namun ternyata keadaan itu tidak bertahan lama, menginjak 45 menit perjalanan wajah lelah yang penuh penyesalan mulai tampak dengan jelas,sepupuku dani mulai memprotes habis habisan sang komandan, gimana ini katanya jalanya mudah dilalui?, mana buktinya? gimana sih, tau gini mendingan kita naik mobil saja,ucapnya penuh keputus asaan,sedangkan jajang sang komandan hanya bisa menarik napas dan tersenyum kecut.Adi yang sejak awal seperti penyiar radio nampak berubah 180 derajat, keadaanya saat ini lebih menyerupai radio yang kehabisan batere.

Semua yang sesumbar agar memulai perjalanan dari rumah dengan berjalan kaki seolah  lenyap ditelan bumi,tenggelam dalam keheningan,kurasakan aura penyesalan memancar dari tubuh mereka, bahkan aku sendiri yang  dengan gagah berani mendukung ide itu seperti salju yang mencair di musim semi.pada menit 50 kami sudah tampak kewalahan,terlebih kami harus menapaki jalan dengan kemiringan 45 derajat dan tidak kurang dari 1 kilometer.dari  rumah tempat kami memulai, kami bisa dengan mudah menunjuk jalur yang akan kami lalui, namun ternyata setelah kami berada di tengah tengah jalur, tanpa arah yang jelas kami mulai tampak bingung, bahkan kami sempat menyebrangi kebun jagung yang seperti tanpa ujung.

Namun Allah masih melindungi kami, karena ternyata setelah keluar dari kebun jagung itu, kami melihat pohon pinus yang berbaris kokoh laksana prajurit pasukan pembebasan menyambut kami, pertanda kaki sang gunung telah dicapai, untuk sementara kami merasa lega,meski rasa khawatir dan sedikit rasa takut mulai menyelimuti kami seiring mulai sirnanya cahaya mentari. Pasukan pinus ini adalah level berikutnya yang harus kami lalui sebelum menaklukan sang raja alam.

Dani yang sejak tadi sudah tampak kelelahan langsung duduk berselonjor sambil menenggak minuman ringan dari rangselnya,diikuti oleh yang lainya, bahkan uyuh yang sejak awal begitu enjoy dengan musiknya langsung merebahkan diri di tanah tanpa alas apapun.

Tidak selalu LINEAR

January 17th, 2008 by newramkur

Dalam balBaby_muslimautan pakain gamis putih Guru ngaji itu tampak penuh kharisma, wajahnya seolah memancarkan cahaya penuh kesejukan pada setiap yang memandangnya.Dengan suara yang lembut laksana alunan Simphoni yang indah Ia menyampaikan wejanganya;

"Anak anaku sekalian, ingatlah bahwa Ilmu dan pengetahuan adalah sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupan ini, terutama ilmu agama, menuntut ilmu agama hukumnya adalah fardu ain bagi setiap muslim.Bahkan menuntut ilmu itu merupakan Ibadah yang bernilai pahala disisi ALLAH.tahukan engkau anak anaku…? banyak hadis yang mengatakan betapa pentingnya menuntut Ilmu, dengan Ilmu hidup akan terarah dan tahukah engkau anak anaku untuk masuk syurga itu ada Ilmunya.Jadi tuntutlah ilmu dengan benar agar engkau menjadi manusia yang selamat dan bahagia di Dunia dan Akhirat. jangan pernah berhenti sebelum malaikat maut menjemputmu".

Begitu Indah wejangan guru ngaji itu sehingga mampu membangkitkan semangatku untuk lebih giat mencari ilmu dan menambah pengetahuan,namun ternyata dalam kehidupan ini terkadang seseorang yang memiliki Ilmu dan pengetahuan yang luas tidak selalu berbanding lurus dengan tindakan dan sikap yang dilakukanya.

Seseorang yang memiliki Ilmu dan pengetahuan yang tinggi ternyata tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih baik dan terarah, karena ada faktor lain yang senantiasa menggerogoti setiap makna dari Ilmu yang ia miliki, yaitu nafsu.

Nafsu itu begitu kuat sehingga Seseorang yang memiliki Ilmu dan pengetahuan yang sangat banyak tidak dapat memahami Ilmu itu atau yang lebih parah lagi adalah seseorang yang memahaminya namun Ia selalu berusaha untuk mencari pembenaran akan tindakan yang dilakukanya meskipun dengan Ilmu yang Ia miliki Ia memahami bahwa tindakanya itu salah.

Banyak sekali orang yang notabene  alumni pesantren, murid dari seorang ustad ternama atau seorang yang senantiasa berbicara tentang akhlaq mulia,bahkan kelima rukun Islam telah Ia jalankan, jauh dari ilmu yang Ia miliki.

Ternyata ada hal lain yang harus seseorang lakukan selain dari mendapatkan Ilmu dan pengetahuan, yaitu memahami dan mengamalkanya.

Banyaknya Ilmu yang dimiliki tidak menjadikan seseorang itu baik manakala Ilmu itu hanya sebatas pengetahuan belaka, tanpa dipahami dan diamalakan. Ia mengetahui betapa Buruknya menyakiti hati seseorang, namun Ia melakukanya dan mencari pembenaran atas apa yang dilakukanya, Ia tahu pentingnya syariat islam namun Ia tidak berusaha untuk mengamalkanya meskipun Ia mengetahui hukumnya wajib.

Menuntut Ilmu adalah wajib akan tetapi Ilmu itu tidak akan membawa kemashlahatan manakala Ilmu itu tidak diamalkan dan hanya dijadikan pengetahuan belaka yang hanya dipakai sebagai argumen dalam diskusi atau perdebatan belaka, sebaliknya hanya akan mengundang Murka Sang Maha Pencipta Allah SWT.(RAMKUR)

Wallahualam

RAKSASA itu kecil

January 16th, 2008 by newramkur

Gunung_4 Mentari mulai tenggelam saat semua perlengkapan telah rapi tersusun dalam rangselku,jam tujuh malam kami berjanji untuk berkumpul di rumah temanku dan memulai perjalanan akhir pekan Kami.

selepas Isya kami berangkat dengan memakai Bis Pariwisata yang baru selesai mengantarkan siswa karya wisata, dua jam kemudian kami turun dari bis dan mulai melangkahkan kaki menyusuri jalanan yang gelap

Cukup panjang perjalanan kami hingga kaki terasa lelah dan keringat mulai bercucuran meski malam cukup dingin, rangsel yang saat pergi kurasa ringan mendadak seperti bongkahan batu besar yang penuh monyet bergelantungan.sangat berat.

Kurasakan tubuh ini mulai menolak perintah otaku, setiap langkah semakin berat laksana berkarung karung pasir terikat di kakiku, nafasku tersengal sengal layaknya orang  dijemput malaikat maut.Kulihat teman temanku, dan kondisi mereka tidak jauh berbeda, bahkan seorang temanku berubah menjadi seorang kakek yang tidak henti hentinya batuk.

Kami akui bahwa kami memang sudah kelelahan, saat kulihat raksasa alam menjulang tinggi di hadapan kami, temanku berucap "bagaimana kalau kita lanjutkan besok,kita tundukan dia besok pagi? sambil menunjuk "sang Raksasa"yang tampak tenang dan serempak teman temanku termasuk aku berteriak "SETUJU"

Seolah tidak ada yang menarik dari perjalanan tadi, namun aku menyadari satu hal, bahwa hanya nafsu dan keinginan manusia saja yang tidak terbatas, namun sesungguhnya manusia penuh dengan keterbatasan, setiap manusia memiliki keterbatasan baik dalam stamina, ketahanan fisik, maupun berpikir. dan kuakui betapa lemahnya Manusia dan betapa tidak berdayanya manusia

Malam itu kami sepakat menggelar sleeping bag tepat dikaki sang "raksasa" yang tertidur lelap, ternyata lelah membuat kami sangat lapar dan makan seperti pengemis yang  tidak menemukan makanan selama  seminggu, dalam riuhnya perbincangan temanku, kubuka matrasku dan kuberbaring diatasnya.

Indah sekali malam itu, begitu banyak bintang di hamparan langit yang luasnya tidak terkira.kulihat sebuah bintang bersinar terang melebihi bintang lainya, dan saat itu juga aku berpikir seolah einstein menjelma dalam diriku.

Hmmm…..Bintang adalah benda langit dengan ukuran sangat besar yang memancarkan cahaya dimana jumlahnya begitu banyak,jutaan bahkan milyaran ……hmmmm Bukankah Bumi juga benda langit???….seberapa besar bumi ini  di alam semesta?? …..andai saja bumi ini sama besar dengan salah satu bintang di langit itu, berarti diantara jutaan bintang, bumi ini tidak ada apa apanya, begitu kecil dan tidak berarti, gumamku dalam hati…sekejap kuberpaling pada "raksasa" yang tampak tenang dan tidak terganggu meski teman temanku ribut terbahak bahak, kutunjuk dia dan kuberkata engkau begitu besar, namun tahukah kalau engkau itu berada di Bumi yang sesungguhnya kecil di alam Semesta ini??…kutersenyum karena aku merasa menang bisa membuatnya terdiam tidak bisa menjawab, Namun sekejap kemudian tubuhku merinding dan seluruh ototku terasa kaku saat aku berpikir lebih jauh lagi.

"Raksasa" yang sangat besar itu begitu kecil di bumi ini dan mungkin tidak terdefinisi di alam semesta, lantas apakah aku?  aku hanya manusia yang berbaring di kaki sang "raksasa" yang dengan sombongnya kubilang tidak berarti di alam semesta, lantas berartikah aku ini?, adakah existensiku di alam semesta ini?

Jika "raksasa"saja tidak terdefinisi apakah aku ini dianggap ada di alam semesta ini? mungkin atom saja terlalu besar untuk mendefinisikan diri ini, diri yang penuh dengan keterbatasan dan kekurangan.

Pantaskah aku sombong?

Pantaskah manusia Sombong?

Pantaskah?

(RAMKUR)

Proses Pendewasaan

January 16th, 2008 by newramkur

Muslim_boy_8Manusia merupakan mahluk dinamis yang
senantiasa Tumbuh dan berkembang,
Setiap langkahnya adalah Proses yang
berkelanjutan yang hanya akan berakhir
manakala Manusia itu mengalami
kematian.

Proses tersebut adalah kata lain yang
dipakai untuk mendeskripsikan arti
dari sebuah pengalaman, pengalaman
yang akan membentuk Pola Pikir dan Pola Sikap
seseorang menjadi lebih dewasa dan
memahami arti sesungguhnya kehidupan.

Ujian dan cobaan, adalah rangakaian
proses pendewasaan,semakin besar dan
semakin komplek ujian yang Ia
terima,sesungguhnya akan menciptakan
sikap mental yang sangat luar biasa
hebat.manakala Ia berhasil
menyelesaikanya…(RAMKUR)