Matanya senantiasa mengawasi setiap sudut ruangan dengan tatapan yang tajam, layaknya seekor rubah merah berekor sembilan yang sedang mencari mangsa, meski dimulutnya telah terkulai seekor rusa, mulutnya tidak henti hentinya mengunyah dan tampak jelas dua toples besar berada dalam pelukanya.
Itulah salah satu sepupuku yang begitu terobsesi dengan setiap makanan yang terhidang saat Hari raya Idul Fitri, tidak ada makanan yang luput darinya dan tidak ada satupun makanan yang tidak Ia ketahui rasanya,mulutnya layaknya gilingan beras yang tidak pernah berhenti.
Setiap hidangan yang melewati kerongkonganya senantiasa Ia berikan komentar,hmmm…enak ni, tapi sayang kurang manis,nah ini enak, tapi bumbunya kurang meresap, itulah beberapa komentar yang keluar dari mulutnya saat sesuatu masuk kedalam mulutnya, sikapnya persis sama dengan para juri dalam acara lomba masak yang pernah kutonton di televisi.
Hari kemenangan seolah menjadi hari pembalasan dendam kesumat setelah sebulan penuh terkekang dalam kekhusuan berpuasa dan setiap makanan yang terhidang seolah wajib untuk dilahap detik itu juga. itulah seninya merayakan kemenangan "pembalasan dendam" layaknya tentara amerika yang menyiksa saudara kita di penjara Abu ghraib, celoteh sepupuku sambil tertawa lepas meski sedetik kemudian mulutnya yang penuh dengan makanan berubah monyong saat sepupuku yang lain menyamakanya dengan tentara amerika yang bejat itu.
Itulah kecerian yang kualami manakala hari Idul fitri telah tiba, banyak makanan yang terhidang hampir di setiap sudut ruangan.namun ada kegembiraan lain selain itu semua, yaitu berkumpulnya keluarga besar ku dari beberapa generasi, dan tentunya yang paling menyenangkan adalah saat generasi seusiaku berkumpul bersama.Kesibukan masing masing membuat kami jarang bertemu dan momen idul fitri adalah momen terbaik untuk saling bercerita dan melepas kerinduan setelah sekian lama tidak berjumpa,Seperti saat itu,hampir semua sepupuku berkumpul dirumahku.sangat menyenangkan.masing masing mengungkapkan semua cerita yang sudah lama ingin diungkapkan.
Namun sesungguhnya sangat berbahaya manakala remaja seusia kami yang memiliki semangat tinggi dan jiwa pemberontak berkumpul bersama,arah pembicaraan kami mulai bergeser dari hanya sekedar bercerita tentang keadaan masing masing dan aktivitas yang dilakukan selama tidak berjumpa menjadi penyusunan sebuah rencana petualangan liar dengan ide ide gila ide yang muncul karena dorongan darah muda yang menggelora.Tidak menunggu lama untuk menciptakan suatu proposal kesepakatan, akhirnya setelah satu jam bercerita keluarlah keputusan yang disepakati bersama, sebuah rencana brilian, mahakarya anak bangsa namun menjadi awal penderitaan kami yang tidak akan terlupakan.
Ide itu muncul pertama kali dari sepupuku yang bernama andi,yang diamini oleh seppuku yang lain beserta beberapa teman kami,Ide itu adalah menaklukan Puncak tertinggi gunung tampomas.gunung yang begitu Indah bila dilihat dari belakang rumahku.
Saat ide itu terdengar di telingaku, tiba tiba jantungku berdetak lebih cepat sehingga aliran darahku terasa begitu deras.Ternyata adrenalin dalam tubuhku bereaksi begitu cepat manakala kata gunung terdengar jelas ditelingaku, akupun menjelma laksana seorang jendral yang penuh keberanian memotivasi para prajurit yang hendak pergi berperang, kupraktekan trik trik mempengaruhi audien yang kupelajari dari sebuah buku komunikasi hingga membuat semua sepupuku manggut manggut penuh semangat ingin segera menaklukan sang petinggi Alam,bukan itu saja berbagai lobi aku lakukan terutama kepada setiap orang yang menjabat sebagai Ibu dan ayah dari semua sepupuku, kami begitu kompak saat itu,dan akhirnya perjuangan keras kami membuahkan hasil, orang tua kami mengabulkan referendum kami sehingga kami mendapatkan kemerdekaan.
Namun kemerdekaan yang kami peroleh ternyata terlalu prematur, karena Panitia persiapan kemerdekaan kami belum benar benar siap, sehingga dasar negara yang kami bangun belum begitu jelas,akibatnya kami menjalankan rencana kami dengan alakadarnya.persiapan yang kami lakukan tidak lebih dari satu jam sedangkan medan yang harus kami taklukan adalah bongkahan batu raksasa penuh pepohonan yang menjulang sangat tinggi.
Peralatan yang kami bawa jauh dari standar minimum para pendaki gunung, tenda yang kami bawa hanya selembar terpal lebar yang biasa dipakai untuk menjemur padi dan sleeping bag kami hanya dua gulung tikar yang kami temukan di gudang. hanya keinginan dan semangat besar yang membuat kami berani memulai perjalanan itu, meski sebetulnya kata bodoh dan nekat lebih cocok.dari sekian banyak yang mengajukan referendum hanya tiga orang yang dikabulkan, andi, adi, dan dani, selain sepupuku terdapat tiga orang temanku yang ikut bergabung, dasef, jajang dan uyuh, aku lupa namanya tapi kami biasa memanggilnya uyuh.
Sore itu tepat pukul 4 sore selepas ashar kami bersiap memulai perjalanan, temanku jajang bertindak menjadi penunjuk jalan, karena Ia satu satunya yang tahu jalur yang akan kami tempuh, seperti seorang pemimpin pasukan elit Ia menjelaskan rute dan kondisi jalan yang akan kami tempuh, setiap wejangan ia sampaikan penuh semangat.Namun kesalahan besar kami lakukan saat kami memutuskan untuk memulai perjalanan dari rumahku dengan berjalan kaki, saat itu alasan kami adalah agar perjalanan lebih menantang dan berkesan." Yang kita inginkan adalah perjalanan yang menantang agar perjalanan kita penuh kesan dan kebanggaan, kalau hanya mencapai puncak bukankah orang lain juga bisa? "Sepupuku andi memprovokasi dengan penuh semangat, dan sialnya akupun terprovokasi dengan mendukung idenya sehingga yang lainya begitu terbakar semangatnya.sebuah alasan yang sungguh luar biasa meski nampak arogan.padahal untuk mencapai kaki gunung saja tidak kurang dari sepuluh kilometer harus kami tempuh terlebih medan yang dilalui bukanlah jalan raya penuh bunga dimana terdapat banyak penjaja makanan, melainkan hutan dan semak dengan medan yang belum kami kenal.jika dengan menggunakan angkutan umum sebenarnya kami bisa lebih cepat dan mudah mencapai kaki gunung sehingga bisa dengan mudah pula memulai pendakian karena trek atau jalan menuju puncak sudah ada.
Saat mengawali perjalanan kami tampak begitu bersemangat, adi yang sejak awal tidak banyak komentar mendadak menjadi seperti penyiar radio yang sedang berusaha memecahkan rekor siaran nonstop,kisah demi kisah Ia siarkan walaupun kadang dani sering memotong ceritanya dan mengubah kisah adi dengan versi yang lain.Uyuh yang berperawakan jangkung tidak terganggu dengan perdebatan yang kadang muncul antara adi dan dani, Ia tampak cuek bernyanyi menirukan musik yang Ia dengarkan lewat walkmannya.Lain halnya dengan jajang sang komandan, merasa memiliki tanggungjawab besar Ia tampak serius memperhatikan jalan dan kadangn begitu serius berdiskusi dengan andi, sedangkan aku dan dasef begitu terlena dengan keindahan disekitar kami.
namun ternyata keadaan itu tidak bertahan lama, menginjak 45 menit perjalanan wajah lelah yang penuh penyesalan mulai tampak dengan jelas,sepupuku dani mulai memprotes habis habisan sang komandan, gimana ini katanya jalanya mudah dilalui?, mana buktinya? gimana sih, tau gini mendingan kita naik mobil saja,ucapnya penuh keputus asaan,sedangkan jajang sang komandan hanya bisa menarik napas dan tersenyum kecut.Adi yang sejak awal seperti penyiar radio nampak berubah 180 derajat, keadaanya saat ini lebih menyerupai radio yang kehabisan batere.
Semua yang sesumbar agar memulai perjalanan dari rumah dengan berjalan kaki seolah lenyap ditelan bumi,tenggelam dalam keheningan,kurasakan aura penyesalan memancar dari tubuh mereka, bahkan aku sendiri yang dengan gagah berani mendukung ide itu seperti salju yang mencair di musim semi.pada menit 50 kami sudah tampak kewalahan,terlebih kami harus menapaki jalan dengan kemiringan 45 derajat dan tidak kurang dari 1 kilometer.dari rumah tempat kami memulai, kami bisa dengan mudah menunjuk jalur yang akan kami lalui, namun ternyata setelah kami berada di tengah tengah jalur, tanpa arah yang jelas kami mulai tampak bingung, bahkan kami sempat menyebrangi kebun jagung yang seperti tanpa ujung.
Namun Allah masih melindungi kami, karena ternyata setelah keluar dari kebun jagung itu, kami melihat pohon pinus yang berbaris kokoh laksana prajurit pasukan pembebasan menyambut kami, pertanda kaki sang gunung telah dicapai, untuk sementara kami merasa lega,meski rasa khawatir dan sedikit rasa takut mulai menyelimuti kami seiring mulai sirnanya cahaya mentari. Pasukan pinus ini adalah level berikutnya yang harus kami lalui sebelum menaklukan sang raja alam.
Dani yang sejak tadi sudah tampak kelelahan langsung duduk berselonjor sambil menenggak minuman ringan dari rangselnya,diikuti oleh yang lainya, bahkan uyuh yang sejak awal begitu enjoy dengan musiknya langsung merebahkan diri di tanah tanpa alas apapun.